Peringatan tersebut disampaikan oleh Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) setelah dilakukan analisis terhadap dinamika atmosfer terkini. BMKG menyebutkan, terdapat sejumlah faktor atmosfer yang berkontribusi terhadap meningkatnya potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang di sebagian besar wilayah NTB .
Kepala Stasiun Meteorologi ZAM, Satria Topan Primadi, menjelaskan bahwa gangguan atmosfer tersebut antara lain dipicu oleh keberadaan Bibit Siklon Tropis 97S di wilayah pesisir utara Australia, aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby ekuator, serta gelombang Kelvin yang melintasi wilayah NTB.
“Selain itu, terdapat pertemuan dan perlambatan angin, kelembapan udara yang basah di berbagai lapisan atmosfer, serta kondisi labilitas atmosfer yang kuat sehingga mendukung terbentuknya awan konvektif,” jelasnya.
BMKG memprediksi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat berpotensi terjadi di hampir seluruh kabupaten/kota di NTB, meliputi Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Bima, hingga Kota Bima.
Selain potensi hujan lebat, BMKG juga mengingatkan adanya gelombang tinggi di perairan NTB. Pada periode 20–22 Januari 2026, tinggi gelombang diperkirakan mencapai 2,5 hingga 4 meter di Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, Selat Sape bagian selatan, serta perairan Samudera Hindia selatan NTB. Sementara di bagian utara perairan tersebut, tinggi gelombang berkisar 1,25 hingga 2,5 meter.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal dan beraktivitas di wilayah rawan bencana, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak cuaca ekstrem seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, sambaran petir, pohon tumbang, hingga gelombang tinggi.
Tak hanya kepada masyarakat, BMKG juga memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah dan pihak terkait, antara lain memastikan kesiapan infrastruktur sumber daya air, menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, melakukan pemangkasan pohon rapuh, serta meningkatkan koordinasi lintas sektor dalam kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi.
BMKG juga menegaskan pentingnya masyarakat untuk terus memantau informasi dan peringatan dini cuaca ekstrem melalui kanal resmi BMKG guna mengantisipasi risiko yang dapat ditimbulkan selama periode tersebut.